Senin, April 27, 2009

LA CASCADE

Nhi novel yang lagi gwa bikin. Yng drafnya, pake tulisan tangan, uda 200 halaman. Tapi versi ketikan baru beberapa halaman. Maap kalo bikin pusing bacanya,

MASUKAN, COMMENT, AKAN BERGUNA BAGI KELANGSUNGAN NOVEL KAMI, THANKS PANGKAT 10.

dengan baik hati kupersembahakan kutipannya, 2 bab bonus prolog.

gracilliz's sword time line

la cascade

it's more than your blood, it's less than your tears

nadia apriliani feliana eka dewi





- PROLOG -



Mimpi yang Menjadi Segala Awal

Kucing itu muncul dari semak-semak, mengeong dengan suara takjub padaku.

Ia memandangiku dengan pandangan yang sama sekali bukan pandangan kucing—aku kan pernah punya kucing, jadi aku tahu seperti apa itu—ia memandangi diriku dengan sorot mata kelaparan, bercampur takut. Atau mungkin kelihatannya seperti itu.

Apa sih yang ia inginkan dariku? Ikan tuna? Atau mungkin aku terlihat seperti ikan tuna, sehingga ia berniat mencicipiku?

Si kucing mengerang saat aku mencoba menjauhinya. Dan saat iulah aku menyadarinya—tampaknya kucing ini sama sekali bukan kucing.

Pupil matanya yang seharusnya lonjong bercahaya, kali ini berbentuk bulat, persis seperti bola mata manusia. Warnanya merah redup. Kira-kira seperti warna darah yang mengering, merah kehitaman. Ia masih menatapku, dan aku melihatnya seakan-akan ia sedang berlutut, memohon-mohon padaku, bukannya mengeong manja seperti kucing-kucing normal lainnya.

Ia mencoba meraih lututku—dan aku baru menyadarinya lagi—ternyata ia cukup besar juga untuk ukuran kucing. Apakah ia hamil… tidak. Tapi tidak gemuk juga. Badannya saja yang besar.

Menyadari fakta ini, aku mulai menjauh dari kucing itu. Jujur saja, aku lebih menyukai kucing-kucing kecil yang manis dengan bulu mereka yang halus. Bukan kucing gunung besar jabrik mengerikan.

Ia masih saja mengayunkan kedua lengan depannya untuk meraihku. Tanggapan dalam suaraku hanya satu; ia ingin digendong. Atau mungkin… memintaku berjongkok, mendengarkan permintaannya. Oke, kali ini aku menurut.


Tapi aku lebih memilih berjongkok saja, daripada mengangkatnya. Kucing itu kan, besar sekali. Pasti berat.

Aku menekuk kakiku, mendekati kucing itu.

“Apa yang kau inginkan, manis?” tanyaku sembari menggosok lehernya—meskipun harus kuakui, dia tidak manis. Padahal tampaknya dia betina.

Pandangan kucing itu langsung berubah; senang karena dirinya ditanggapi dengan baik olehku. Ha!

Ia menopangkan kedua kaki depannya di bahuku. Beratnya lebih dari yang kubayangkan. Kalau berlama-lama begini, aku bisa pegal juga.

Tiba-tiba aku mendengar suara asing entah dari mana. Suara asing berkata, tolong. Permintaan tolong yang cukup menyedihkan. Seperti suara orang sekarat yang berharap ada yang mau melaksanakan tuntutan terakhirnya.

Aku mendongak dari kucing itu, melihat berkeliling. Tampaknya tak ada siapa-siapa.

Aku kembali ke kucing itu, dan merasakan bahwa ia menatapku penuh-penuh, menngunci mataku agar tak usah melihat ke arah lain. Bagaimana caranya seekor kucing melakukan itu??

Please. Selamatkan diriku.

Suara itu terdengar lagi. Suara yang sama, sama-sama membuat bulu kudunk merinding.

Mataku masih terkunci pada mata kucing, jadi aku tak dapat melihat hal lain selain warna merah kehitaman redup secara jelas.

Kumohon. Demi kehidupan semua makhluk di dunia ini. Akan kubayar dengan nyawaku jika kau memerlukannya suatu saat, tapi kuharap jangan sekarang atau besok, katanya, suaranya cukup lemah untuk ukuran orang yang bercanda.

Nyawa? Siapa sih kau?

Eshter, jawab suara itu, lemah lembut—lemah dalam konteks ini ku artikan seakan-akan ia sekarat—namun ada secercah nada buru-buru.

Ia berkata di dalam pikiranku, rupanya. Dan mendengar jawabanku di pikirannya, rupanya.

Aku pasti sudah sinting.

“Tidak, kau masih waras, tentu.”

Hah??

Hei, siapa kau, dan mau apa kau? Tanyaku defensif, berusaha tidak membayangkan kalau kucing ini yang berbicara.

Yeah, memang aku yang berkata.

Hah? Sejak kapan kucing memikirkan bahasa menusia? Dan sejak kapan kucing berkata yeah???

Hei, aku kan masih remaja. Kenapa sih kau? Jadi mau menolngku tidak? Tanyanya, agak tersinggung oleh kata-kataku.

Aye aye, kapten. Apa yang dapat kulakukan untukmu, kucing remaja?

Gampang. Diam saja, jangan melawan, dan jangan berkata apa-apa sampai besok. Ia berhenti sejenak. Kuperpanjang. Besok lusa.

Hah?

Maksudku diam saja jangan banyak bicara, setidaknya. Walaupun ada orang lain yang mengajakmu bicara. Ingat, aku tidak termasuk. Aku kucing.

Oke, aku mengerti. Tapi sejak kapan kucing berbicara? Maksudku, sejak kapan kucing bisa berbicara melalui pikiran? Atau apapun namanya?

Er—yeah, harus kuakui, aku memang bukan kucing biasa. Aku… semacam kucing gunung… yang aneh. Yeah, aneh. Tapi jangan dipikirkan lagi. Lupakan tentang siapa diriku, atau apa aku ini.

Tahu tidak? Aku sendiri heran mengapa diriku menurut-menurut saja, tidak langsung kabur saja dari sini. Atau dalam arti lain, mengapa aku percaya bahwa ini bukan ilusi?

Cepat, bantu aku. Mereka semakin mendekat.

Siapa?

Para…pra—orang-orang bayaran untuk membunuhku.

Membunuhmu? Mengapa?

Tak ada waktu untuk menjelaskannya.

Oke. Jadi, bagaimana caranya? Menyelamatkanmu?

Diam. Sabarlah, ini tidak akan menyakitkanmu, ok?

Aku siap melakukan apapun, kecuali bunuh diri.

Hening sedetik, dan rasanya ada aliran listrik merayapi tubuhku. Bulu kudukku meremang, tetapi bukan karena alasan ketakutan. Hutan di depanku semakin buram, buram, dan hitam. Segalanya hitam. Tak ada lagi cahaya. Mati rasa.

Aku jatuh ke dalam ketidaksadaran yang membangunkanku.





-1-

Hang Out


Semburat cahaya di timur tampak seperti tinta oranye yang tumpah di kanvas berwarna biru muda. Seorang gadis mengerang pelan dalam tidurnya, di sebuah rumah yang tampak sederhana. Ia terbangun perlahan, lalu langsung bangkit. Sambil duduk di tepi ranjangnya, ia mengingat-ingat lagi apa yang terjadi. Pikirannya teralihkan kepada jarum jam yang bergerak. Dilihatnya jam itu menunjukkan pkl. 03 am. Ia tidak menghiraukan masalah waktu. Bukannya ingin tidur kembali, namun justru sebaliknya. Selama beberapa detik ia menatap sandal rumah di sebelah ranjangnya. Ia tetap tak peduli, dan bangkit menjelajahi pagi yang hangat itu.
“Coba, saja kalau Sarah memberiku hadiah selain sandal pink ini, pasti aku sudah menggunakannya,” gumamnya, setengah menggerutu saat berjalan ke arah cermin.
“Haah, sudahlah, lupakan! Mengapa aku selalu merasa aneh dengan warna bola mataku?” desahnya, sambil menatap kembarannya, cewek berambut gelombang indah dengan campuran warna coklat tua dan muda, matanya coklat keunguan, kulitnya gading kemerahan, dahinya berkerut, mengerenyit di dalam cermin.
Ia membuka pintu, dan keluar. Sambil menuruni anak tangga, ia melihat ruang keluarga yang masih gelap, sunyi, dan sepertinya belum ada seorang pun yang bangun. Ia menyalakan lampunya, lalu menuangkan air dingin dari lemari es ke sebuah gelas. Sementara ia meminum air itu, ia mendengar langkah seseorang mendekat.
“Oh, kau, Claire. Apakah ini waktu yang tepat untuk menyiapkan sarapan?” goda seorang perempuan yang datang dari kegelapan.
“Aku tidak datang ke sini untuk memasak atau – apapunlah tadi – yang kau katakan itu. Kakakku yang amat baik hati, cantik, dan tidak sombong, jangan memanggilku Claire!” jawabnya dengan nada mengancam dan memperingatkan kepada Sarah.
“Ehm, baiklah, tuan putri, aku akan memanggilmu Will, seperti yang kau inginkan.”
“Bagus sekali. Untuk apa kau datang ke sini, kakakku tersayang?” tanya Will dengan nada ‘mau-apa-sih-kau?!’.
“Kakakku tersayang? Bagus juga idemu itu. Pakailah itu besok pagi, taruhan mom pasti bengong mendengarnya,” jawab Sarah dengan senyum mautnya. “Aku hanya ingin bertanya, untuk apa kau bangun pagi-pagi begini?”
“Lha, bukannya kau sendiri rutin bangun telat?”
“Terganggu olehmu, sayang. Sekarang bagaimana denganmu?”
“Mimpi buruk,” jawab Will sekenanya.
“Lebih baik kau kembali ke kamarmu dan lanjutkan tidurmu, kalau-kalau akhirnya menjadi acara gantung diri yang menyenangkan. Cobalah untuk menghabiskan 20 liter air es, pasti akan membuatmu lebih baik,” saran Sarah sebelum akhirnya ia kembali menaiki tangga.
“Terima kasih atas sarannya, Kak,” kata Will dengan pandangan ‘cepat-pergi-dari-sini!’.
“Sama-sama!” sahut Sarah riang, mengintip sedikit dari tangga.
Dengan menggerutu sebal, Will kembali ke kamarnya dengan malas-malasan. Ia sengaja melewati kamar Sarah dengan suara yang agak rebut, hingga Sarah, yang pintu kamarnya belum tertutup sepenuhnya, mendelik pada Will. Sedikit puas, Will berjalan perlahan hingga mencapai gagang pintu kamarnya. Will masuk, menutup pintunya, dan ambruk ke atas ranjang. Tersenyum kecil, Will mulai terlelap di bantalnya.

Lima detik kemudian, atau itulah yang dirasakan oleh Will, tubuhnya diguncang-guncang oleh – siapa lagi kalau bukan – Sarah.
“Apa? Apa? Ha! Jangan bilang kalau ada gempa.” tutur Will, setengah sadar. “Di sini tenang-tenang saja kok!”
Sarah mengeluarkan suara yang biasanya hanya didengar saat ada adegan kucing bertengkar.
“Apa!”
“Teman-temanmu menunggu. Kau tak bilang sih kalau ada janji hari ini. Harusnya kubangunkan pukul tujuh tadi.”
“Kayak kau bisa bangun jam tujuh saja,” celoteh Will, “Saat libur, maksudku.”
Keadaan sunyi sejenak, sesaat setelah Will sudah berhasil mengumpulkan semua rohnya kembali, ia langsung shock.
“Jam berapa sekarang?!” tuntutnya pada Sarah, kaget bukan buatan.
Sarah menyeringai sedikit. “Sepuluh.”

Will meluncur di atas sepatu rodanya, terus menerus mengumandangkan permintaan maaf.
“Ya, ya, ya. Sudahlah Will, bersenang senanglah!” tanggap Sam ringan.
Mereka semua ada di alam bebas, menikmati jalanan yang masih sepi, merasakan hawa panas dan angin yang segar menerpa wajah mereka.
Will dan beberapa temannya akan berkunjung ke Ryehill manor, di mana, yang katanya, teman Sam tinggal selama liburan musim panas.
Mereka meluncur besama di atas sepatu roda dan skateboard. Di pertengahan jalan, Vexia nyaris terjatuh, namun gagal akibat pertolongan pertama dari Josh. Sam terkikik. “Maklum, Vexia sedang belajar bermain skateboard dan Josh sering memberinya pelajaran privat gratis.”
“Sam, kau yakin, kita dengan mudahnya diperbolehkan masuk ke dalam Ryehill Manor?” sahut Gaby dari belakang.
“Tentu, aku kenal baik pemiliknya. Hem, tepatnya, anak pemiliknya,” koreksi Sam.
Mereka meluncur terus diiringi canda dan tawa, walaupun selama beberapa kali Vexia nyaris jatuh lagi. Setelah meluncur cukup lama bagi Will, mereka dapat melihat gedung Ryehill Manor yang megah.
“Hai, Dan,” sapa Sam kepada sang penjaga gerbang Ryehill Manor. “Kami bisa bertemu dengan Rei, kan?”
“Tentu. Tunggu sebentar, akan kutelepon dia,” katanya, dan masuk lagi ke sebuah tempat mirip ruang duduk kecil.
“Ia akan menemui kalian di dalam, ayo masuk,” ajaknya.
“Thanks, Dan!” seru Sam, menebarkan senyum pada penjaga itu.
Mereka masuk ke dalam Ryehill Manor, dan dipersilahkan untuk duduk di ruang tamu yang begitu mewah.
“Kau tampaknya kenal baik dengan penjaga itu, Sam?” desis Josh.
“Ya, aku sudah kenal dengannya,” jawab Sam.
“Kau sering ke sini?” tanya Ben.
“Ya. Hei, itu anak yang kubicarakan datang,” tambahnya.
Seorang anak laki-laki seumuran mereka datang dari tangga yang melingkar, tersenyum kepada mereka.
“Sekarang apa yang kau bawa, Sam?” tanyanya, menampilkan tampang orang bodoh.
“Teman-temanku,” jawab Sam riang, seketika itu juga ia berdiri.
“Whoa. Kalau begitu ayo kita ke kamarku saja,” ajak anak itu.
Sam langsung berdiri dan setuju, tidak mengacuhkan teman-temannya. Mereka, termasuk Will, perkecualian untuk Rei dan Sam, menaiki tangga spiral yang menuju kamar Rei.
Ternyata, kamar Rei tampaknya lima kali lebih luas dari kamar Will yang bahkan sudah termasuk besar.
“Ayo masuk,” ajak Rei pada seluruh teman Sam.
Sam langsung menyeruak masuk begitu saja, dan melempar dirinya ke kasur Rei yang tampaknya amat empuk.
“Hei, ngapain kalian bengong saja di situ? Ayo bergabung!” seru Sam, sembari menggerak-gerakkan jarinya kepada Gaby, yang mungkin dapat dibaca ‘ayo sini kucingku yang manis’.
“Oh, thanks Sam, kau memperlakukan diriku dengan baik sekali,” tanggapnya panas, “Memang aku kucingmu, hah?”
“Boleh juga jika kau mau. Wajahmu cukup lucu untuk dijadikan kucingku,” kata Sam, terkekeh.
“Wah, aku lucu? Memang, kok, thanks, ya,” kata Gaby lugu, yang dibalas oleh kerutan muka Sam.
“Wah, kamarmu sudah banyak berubah ya, sejak terakhir kali aku ke sini,” kata Sam, melupakan Gaby.
Sebelum Rei sempat menjawab, terdengar suara ketukan pintu sebanyak tiga kali. Seorang maid berseragam muncul di depan kamar Rei.
“Maaf, saya membawakan minuman dan snack untuk kalian semua,” kata maid itu. “Permisi.”
“Oke, thanks Ella,” sahut Rei.
“Kau tampaknya akrab dengan para pelayanmu, ya?” celoteh Josh. “O, yeah, aku Josh.”
“Rei. Ya, lumayan.”
Sementara Rei mulai berkenalan dengan setengah lusin orang yang ‘diseret’ oleh Sam, Sam sendiri berkumpul dengan Vexia dan Gaby untuk bergosip bersama, sementara Ben, Will sudah bosan mendengar ocehan mereka yang tak brguna itu, maka ia duduk di sebuah meja kursi yang menghadap ke sebuah jendela dengan pemandangan yang menakjubkan. Paling tidak, itulah kesan pertama Will. Di hadapan jendela kamarnya hanya terdapat setumpukan bangunan.
“Hai! Kau teman Sam juga, bukan?” sapa Rei tiba-tiba. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya lagi, setelah selesai menghafal nama-nama teman Sam yang lain.
“Er—hai, aku Will,” jawab Will pendek, memasang senyum terpaksa.
“Rei. Livre Rei Senneville. Kau tidak bergabung dengan temanmu yang lain?”
“Untuk apa?” tanya Will kembali, mengangkatbahunya sembari tersenyum.
“Kau menyesal datang ke sini?”
“Tidak juga. Indah, ya,” tambah Will, menatap taman yang luas itu.
“Kau mau ke sana?” tanya Rei lagi, tersenyum kepada Will.
Will berpikir sejenak. “Baiklah,” jawabnya.
“Oke, jika itu maumu,” kata Rei, membantu Will bangkit dari kursinya.
Sam, yang rupanya sudah memperhatikan Will dan Rei dari tadi, protes melihat Rei mengajak Will ke luar. “Hei, kalian mau ke mana?” ujarnya.
“Taman. Kau tahu tempatnya kan, Sam.” Rei tersenyum pada mereka semua dan memberi isyarat supaya Will keluar dari kamarnya duluan.
Sesampainya di tangga, Rei mulai menghujani Will dengan berbagai pertanyaan lagi.
“Sebenarnya siapa namamu?” Rei bertanya dengan nada yang datar.
“Will,” jawabnya bingung.
“Oh—maaf—maksudku nama lengkapmu,” katanya, mengkoreksi kesalahannya. Namun, dilihat dari ekspresi wajahnya, Will yakin pasti Rei tidak percaya tentang namanya.
“William Claire Lawrence. Lebih sering dikenal sebagai William Claire, atau kau ingin tahu nama lengkapku, yang terdiri dari 6 kata itu?” tambah Will, nyengir ke arah Rei.
“Wow. Boleh,” katanya.
Will tersenyum jahil. “William Dezyem Fevrye Claire Collier Lawrence.”
Rei berhenti mendadak. “Maaf?”
“William-Deuxieme-Fevriere-Claire-Collier-Lawrence,” katanya lambat-lambat. “Aku anak angkat, jadi nama keluargaku sebenarnya Collier, bukan Lawrence.”
Tampaknya Rei mendapat kesan supaya tidak bertanya lebih, jauh maka ia diam saja hingga anak tangga terakhir, lalu mulai menyerocos lagi.
“Kenapa tak dipanggil Claire saja?” tanyanya.
“Semua orang berkata begitu. Mereka kadang memanggilku Claire, kadang Will. Namun rasanya lebih enak dipanggil Will.”
“Dilihat dari image-mu, tampaknya kau memang lebih pantas dipanggil Will,” katanya, menatap Will dari atas ke bawah, ktika mereka akhirnya sampai di bawah.
“Baru kali ini ada yang bilang begitu,” kata Will, tersenyum lebar.
“Satu-satunya alasan kau dapat dipanggil Claire adalah rambutmu, wajahmu, dan matamu,” tambahnya. “Apakah matamu benar-benar berwarna ungu?” sekali lagi Rei bertanya dengan tak percaya.
“Ya. Kau dapat lihat, warnanya alami, bukan? Tidak seperti lensa kontak?” tanya Will ragu-ragu, kaget ketika ditanyai begitu. “Tidak aneh, bukan? Tidak murni ungu, hanya coklat keunguan,” kilahnya.
“Keren,” kata Rei, tampaknya mulai khawatir. Namun setelah beberapa saat tampaknya ia mulai tenang lagi. “Tubuhmu memang tampaknya memencarkan pendar keunguan,”
“Kau bercanda? Imajinasimu kuat sekali,” puji Will.
“Tidak, memang terlihat seperti itu,” kata Rei, sekali lagi tampak heran. “Will, selama ini kau sekolah di Leaves kan?”
“Ya, kenapa?”
“Tidak, tidak apa-apa,” kata Rei, tersenyum berusaha untuk meyakinkan Will. Namun Will sudah berpengalaman dengan orang-orang yang sering menyembunyikan perasaan heran, khawatir, sedih, senang (dan sebenarnya Will sendiri tipe orang yang jago menyembunyikan perasaan), maka ia menyadarinya bahwa ada sebuah pertanyaan di kepala Rei.
Tiba-tiba saja, tanpa Will sadari, ia sudah sampai di sebuah taman yang sangat luas, dan di sekelilingnya tampak seperti hutan buatan. Ada banyak sekali tanaman dan bunga yang berwarna-warni di sini, dan tampaknya ada juga sebuah sungai kecil buatan yang mengelilingi taman itu.
“Indah,” celetuk Will saat mereka menyelusuri jalan setapak di taman itu, menuju sebuah air mancur berikut kolamnya di tangah-tengah taman itu.
“Jika kau melihatnya pada malam hari, kujamin pasti akan terlihat lebih indah,” kata Rei dari punggung Will.
“Oh ya? Seperti apa?” tanya Will penasaran.
“Itu rahasia. Lihat saja sendiri jika kau ingin,” serunya.
“Ayolah!”
“Tidak,” kata Rei pendek, dan tertawa.
“Hei Rei, apakah itu kamarmu?” tanya Will, mngubah haluan pembicaraan.
“Ya,” jawabnya, “ Kau dapat melihat Sam dan kawan-kawannya bermain kartu di sana.”
Dan ternyata Rei tidak salah. Kuat juga pandangan matanya.
Setelah puas menikmati cerahnya langit di taman Ryehill Manor, mereka berdua kembali ke kamar Rei, dan mendapati Sam dkk sedang bermain catur.
Will, yang tidak bisa bermain catur, hanya berjalan ke ranjang Rei dan menjatuhkan dirinya di kasur itu. Ternyata benar, kasurnya empuk sekali. Matanya melayang ke segala arah, dan mata Will tampaknya melihat sesuatu seperti taman labirin yang dindingnya tinggi.
“Rei, apa itu?” tanya Will, merasa tidak pasti dengan hal yang dipikirkannya.
“’Itu’? Apa yang kau maksud dengan ‘itu’?” tanya Rei sembari menghampiri Will.
Will berpikir sejenak. “Sesuatu yang luas dengan dinding-dindingnya yang tinggi, di depan aman bunga itu.”
Rei tersenyum lebar. “Ternyata hanya kau yang memperhatikan, ya. ‘Itu’-mu adalah… yeah, semacam labirin. Maze. Labirin kecil tempat bermain, hanya itu.”
Will nyengir. “Seperti di Harry Potter saja.”
“Kau membacanya? Aku belum pernah membaca bukunya. Mungkin saja,” tambahnya, sambil mengangkat bahu.
“Apakah kita akan ke sana?” tanya Will dengan semangat.
“Ng—yah, jika semuanya mau ke sana, kita akan bermain di labirin itu,” jawab Rei. “Percayalah, tidak menyenangkan bila bermain sendirian,” tambahnya.
“Oke,” kata Will diikuti dengan senyum manisnya, “Hei Sam. Kalian mau ikut ke labirin tidak? Please.”
“Hah? Apa kau bilang tadi?” sembur Ben.
“Labirin. Lihatlah,” tunjuk Will ke arah jendela Rei.
“Labirin?” ulang Sam, berusaha melihat kea rah yang ditunjukkan oleh Will dari balik punggung Rei. “ Labirin? Kau punya labirin, Rei? Kenapa tak pernah bilang?” tanya Sam pedas.
“Ng… percayalah, Sam, tak terlalu menyenangkan bermain di sana, apalagi dengan hal-al aneh yang dipasang Vee—” kata Rei agak terpojok, karena serangan tiba-tiba Sam tadi.
“Siapa Vee?” tanya Will otomatis.
“Oh, belum kuceritakan, ya? Dia kakak perempuanku,” jawabnya.
“Di mana dia? Aku belum pernah melihatnya! Kenalkan dong, Rei!” tambah Sam, berdiri tiba-tiba.
“Dia—er… di Prancis, em—berlibur bersama teman-temannya,” kata Rei, memberikan penjelasan yang masuk akal, namun sekali lagi Will mengangsikan kata-kata Rei.
“Oh, dan bagimana dengan labirinnya?” tanya Will, mengubah haluan.
“Siapa yang mau ikut bermain labirin?” seru Sam dengan keras.
“Apa? Labirin?” ulang Gaby, akhirnya mendongak dari papan caturnya juga.
“Ya! Apakah kalian tak dengar tadi, saat aku bertanya?” tanya Will kesal.
“Tidak,” jawab Ben polos.
“Bagaimana, mau ikut?” tanya Sam lagi.
“Kau yakin? Labirin?”
“Hanya labirin kecil, tak terlalu besar. Paling besar luasnya hanya dua kali kamar ini,” cerocos Rei gugup, agak senewen dengan sikap teman-temannya yang tiba-tiba antusias.
“Tak menarik-menarik amat,” gumam Josh rendah.
Vexia menyikut dadanya, kentara sekali bahwa ia tertarik dengan hal-hal seperti ini.
“Kita mau masuk ke labirin itu? Sekarang?” tanya Gaby, cuek-cuek saja dengan atmosfer ruangan yang membingungkan.
“Sebaiknya jangan sekarang,” sambung Rei, tampaknya, sekarang ia sudah mulai tertarik.



















-2-
Malam Terindah yang Bakal Tak Indah



Rabu, lupakan tanggalnya, kamar, menikmati burger.

Akhirnya, libur musim panas!! Memang sungguh membosankan, mengingat Mom dan Sarah punya kebiasaan mengekang diri mereka di dalam rumah, sambil bereksperimen dengan chocolat millefille mereka, atau kue-kue seperti Madeline—atau apalah namanya—sedangkan aku hanya dapat menyajikan omelet—itupun dengan keadaan dapur hancur dan rasanya yang super—
Hei, tunggu dulu, apa yang kubicarakan tadi sebelum terganggu oleh omelet superku?
Oh, yeah, liburan musim panas. Benar.
Tadi siang Sarah berkata ia akan kerja selama liburan ini sebagai pengasuh anak dan berdgang hot dog. Haha. Memangnya dia sudah cukup umur, ya? Tadi ia juga mendelik padaku di Static saat kuajak bicara. Lebih baik begitu, kan, daripada diriku ‘lewat’ begtu saja di depannya seperti asap lalu…
Hei, dari mana aku dapat ide seperti itu??
Menyedihkan. Sarah sengaja berlama-lama hanya untuk mencari album Avril Lavigne dan Gwen Stefani, atau ia dengan bodohnya mencari soundtrack film Ice Princess, I Fly, dari Hayden Panettierre. Harus kuakui, adegan skate-nya memang keren. Di mana Michelle Trachtenberg mempelajarinya?? Coba kau lihat triple loop-nya. Keren, kan?
Di kelas tadi, saat pelajaran Miss Louise, aku dan Sam bersurat-suratan. Kau mau tahu apa isinya? Baiklah, akan kutulis ulang.

Will, besok kau ada acara?—Sam

Tidak, ada apa? Cara bertanyamu itu persis sekali dengan orang yang sedang mengajak kencan!

Hei, kau mau ikut kami ke Ryehil Manor?

Kami?? Siapa saja??

Hem. Aku, kau, Vexia, Josh, Gaby, Ben, Blue. Mungkin.

Hua. Ajak saja dirimu sendiri deh.

Hei! Baru kali ini kau rela menjadi tawanan! Kita libur selama dua bulan penuh dan kau ingin menjadi kepompong??

Tawanan? Siapa yang menawanku?

Sarah?

Oh, tidak, ia ambil pekerjaan berdagang hot dog.

Dan bagaimana dengan ibumu?

Tenang, dia ke pantai bersama teman-temannya. Tinggal aku sendiri menikmati game yang telah kubeli secara diam-diam.

Kau lihat? Bahkan ibumu yang sudah tua itu pergi ke pantai!

Ia masih muda, bodoh. Ia melahirkan Sarah pada umur 17 tahun.

Hm, tapi tidak terlalu muda, kan? Kira-kira… 33 tahun. Benar, tidak?

Oke, memang.

Bagaimana? Kau bisa ke Ryehill manor, kan? Rasanya dekat dari rumahmu.

Sudah kubilang aku tidak mau, bukannya tidak bisa!

Ayolah Claire, kujamin menyenangkan di sana! Ada anak seumuran kita yang selalu tinggal untuk liburan di sana!

Heh. Baiklah, kau menang.

Yes! Apakah artinya kau akan pergi?

Tidak.

WILL!

Oh, yeah, Ok. C.YA!


Terlalu malas untuk menulis? Yeah, kuakhiri saja. Sam membalas surat lemparanku dengan sebuah senyum yang amat manis. Namun kubalas dengan muka kusut. Hahaha.
Jadi, mengapa akhirnya kuputuskan untuk ikut? Semoga saja anak itu dapat kuajak bermain game….
Hehehe.
Oh tidak. Sarah memutar lagu yang vokalnya melengking, dan kontra bassnya membuat kamarku bergetar.
Ah! Mom pergi ke salon dulu! Akhirnya aku dapat membalas Sarah…


Will membalik hasil tulisannya kemarin, tersenyum sendiri. Ia mengingat kejadian tadi siang, dan tampaknya tak ada setitik pun perasaan kecewa karena telah berkunjung ke Ryehill Manor.

“Sip, kita kumpul di sini pukul delapan malam. Will dan yang lainnya, pastikan kalian on-line. Rei, kau jangan tidur dulu,” atur Sam saat mereka bersiap – siap pulang.
“Yeah, pasti,” tanggap Rei dari balik lemari pakaiannya.
“Tentu, kalau Mom mengijinkanku main internet,” ujar Will sambil membantu Sam menbereskan biak-bidak catur. “Kau juga mau pulang dulu, kan Sam?”
“Ya. Tapi aku mau ngomong dulu dengan Rei, OK?” tanyanya sambil menyikut dada Rei.
“Mm—yeah, baiklah,” kata Will dengan tatapan bergantian antara Sam dan Rei.
“Ada apa sih, Sam?” tanya Rei ketika Will menaruh papan catur pada tempatnya.
Sam tampaknya tersenyum, namun ia mengecilkan volume suaranya. “Apakah ada jalan pintas di labirin?”
“Yah, kusarankan kau tidak lewat jalan pintas, karena—”
Hanya itu yang dapat Will dengar dari desisan dalam Rei. Lanjutan kata ‘karena’ tak dapat terdengar oleh Will karena teredan bunyi pintu. Cukup sulit untuk mendengarkan lanjutan kasak-kusuk mereka walaupun teman-temannya yang lain sudah pulang.
Rumah Rei benar-benar luas. Sejenak Will dibuat bingung oleh apa yang baru saja didengarnya. Pembicaraan singkat antara Sam dan Rei masih menghantui Will saat ia berusaha keluar dari rumah bangsawan itu.
Tiba-tiba timbul pertanyaan singkat dan sederhana dalam pemikiran Will. ‘Bukannya jalan pintas adalah kunci untuk mencapai tujuan akhir dengan cepat? Mengapa Rei melarang Sam melewatinya?’.
Namun, sebelum Will sempat menjawab pertanyannya sendiri, perhatianyya teralihkan oleh kotak kaca beasar yang baru saja dilewatinya.
Di dalam kotak kaca itu terdapat busur sepanjang 1,5 meter, dengan ukiran dan pisau yang tampaknya masih amat tajam di kedua sisinya. Di samping busur itu juga terdapat anak panah dengan panjang kira-kira 60 cm.
“Milik Vaullo Senneville,” desis Will pada dirinya sendiri saat melihat nama yang terukir di salah satu pisaunya.
Saat Will sedang asyik-asyiknya berpikir, tiba-tiba pintu yang berjarak 3 meter darinya menjeblak terbuka. Will melonjak mundur, hamper saja menabrak kotak kaca itu.
“Bye Rei! Sampai nanti malam!” seru Sam, melambaikan tangannya.
Will langsung membetulkan posisi berdirinya, membuat Sam menyadari kehadirannya. “Will? Kau masih di sini?” tanya Sam tajam, melihat ke dalam mata Will.
“Sam, lihat itu,” kata Will sebagai jawabannya, mengalihkan pembicaraan.
“Whoa. Apa itu? Busur?” tanya Sam dengan semangat.
“Yeah, sepertinya. Dan kau lihat anak panah itu? Keren sekali,” kata Will.
“Dan… lihat itu, Will!” desis Sam, menunjuk ke dinding yang berjarak kira-kira 4 meter dari pintu kamar Rei.
Will berjalan mendekatinya. “Smacam tombak, dengan panjang kira-kira 2 meter,” katanya, kagum.
“Untuk apa mereka mengkoleksi benda-benda seperti ini?”
“Hobi, mungkin. Bangsawan kan suka sekali mengkoleksi barang-barang antic,” jelas Will.
“Yeah. Ayo kita turun, Will,” ajak Sam, menarik Will ke tangga.
Will menuruti ajakan Sam dengan tidak banyak omong. Ia menuruni tangga dengan diam, tidak seperti bersama Rei tadi, penuh dengan pemikiran untuk menjawab pertanyaan Rei.
Mereka berdua mengenakan sepatu roda dalam diam. Mereka baru saling melempar pandangan tanya setelah keluar dari gerbang Ryehill Manor.
“Sam, nanti kita kumpul lagi pukul delapan, kan?” tanya Will memastikan.
“Yeah. Jangan sampai terlambat, OK?” tuntutnya sambil mengacungkan telunjuknya ke mata Will, “Kira-kira jam 1an aku akan meng-e-mailmu. Cepat balas, kalau bisa sekalian saja kita chat,”
“Kenapa enggak sekalian saja kau katakan di sini?”
“Capeek! Dari tadi Josh memukuli bidak-bidakku terus,” jawabnya, dan Will mengerti bahwa Sam selalu kalah dalam bermain catur bersama Josh. Coba tadi ia melihatnya, pasti Will sudah mati ketawa.
Mereka meluncur bersama, terkadang melempar pandang geli, atau memberengut pada seorang pemuda pemberontak yang membuang kaleng bekas minuman sembarangan. Di sebuah perempatan, Sam meluncur terus ke depan dengan pandangan mengucapkan ‘selamat tinggal’ pada Will, sementara Will berbelok menuju rumahnya.
Sarah belum pulang. Begitu juga dengan ibunya. Maka daripada itu, Will mencomot sebuah kue dari dalam oven, yang lupa dikeluarkan oleh ibunya. Merasa akrab dengan rasanya, Will tahu bahwa itu adalah kue yang sering dibeli Sarah di Cookiee Cookies.
Masih belum kenyang juga, Will langsung memesan Big Mac ke McDonald’s. Sambil menunggu, ia dengan sabar menulisi buku hariannya tanpa takut ketahuan Mom dan Sarah.

Kamis, hari yang membosankan namun menyenangkan, 12.05, menunggu kehadiran Big Mac.

Hari yang cukup menyenagkan. Sam membawa kami ke Ryehill Manor, dan di sana kami bertemu dengan seorang anak laki-laki bernama Livre Rei Senneville.
Hei, sejak kapan aku menulis dengan serius seperti itu??
Baiklah, Rei mengajak kami semua bermain ke labirinnya! Lumayan tinggi juga dindingnya, jadi tolong lupakan ide mmanjatmu, teman….
Eh, koreksi. Aku yang mengajak semuanya bermain di labirin. Bahkan aku yang mengajak Rei. Dasar cewek enggak tau malu.
Hei! Aku memang mengajak Rei, tapi Sam kan, yang mengajak semuanya???
Hm, tak sabar menunggu nanti malam!
!!!!!!!!!!!!!!!! =]
Memang sih, kuakui kalau pada awalnya aku tak niat ke Ryehill Manor. Buat apa coba?
Ada yang bisa jawab?
Nah, tapi begitu kudengar ada teman, em…
Enggak jadi, deh. Hehehehe.
Sebentar lagi kusetel lagu-lagu R n B kesukaanku, dari pada bosan. Coba dengar lagu I’l be Wait for You. Lembut deh. Persis dengan suaraku.
HAHAHAHA.
Nah, mulai ngelantur nih. Omong-omong tentang lembut, Rei kelihatannya cukup lembut juga, sebagai seorang ‘young man’. Bagiku, lho. Tak hanya lembut, sih. Cukup tampan juga. Dia termasuk golongan popular, mungkin, ya?
Er—halo? Jam berapa sekarang?
Ah, tenang saja! Baru pukul 12.10!
Hei! BARU jam 12??? Lama sekali!!!!
Yah, setidaknya, ayo kita menguraikan apa yang telah tejadi tadi. Mari kita lihat….

‘The young man’ Livre Rei Senneville
Dilihat dari tindak-tanduknya, sepertinya dia ingin menginterogasi namaku, ya! Dasar anak tidak ada kerjaan.
Gaby berkata kepadaku bahwa Rei tampaknya mirip…, siapa tadi? Orlando Bloom? Sinting deh. Jelas-jelas perbandingan langit-bumi.
Omong-omong nih, Gaby bilang aku mirip Leighton Meester, lho. Hm, lebih ke “Blair” daripada “Leighton”nya.
Hei, enak saja. Sam malah berkata aku lebih mirip Kate Bosworth dengan rambut coklat tua-coklat muda. Tapi Gaby tetap berpendirian aku mirip Leighton Meester, sang Queen B di Gossip Girl.
Kate Bosworth dan Leighton Meester beda seratus-delapan-puluh-derajat, kan?? Mungkin.
Dasar Gaby dan Sam. Besok aku mau ikut kompetensi look a like Blair Waldrof deh.
Tuh, kan ngelantur lagi. Tadi apa yang kita bicarakan? Jadi lupa. Hei, tunggu sebentar, kayaknya Big Mac-ku sudah datang.

Kamis, 12.20, sekali lahap, tiga kalimat kutuliskan.


Akhirnya. Tumben banget ya Big Mac-nya datang cepat. Harusnya tadi kupesan lima, bukan tiga. Tapi tak apalah. Nah, ayo kita lanjutkan! Sampai mana tadi?
Oh yeah. Livre Rei Senneville.
Melihat namanya nih, mulai dari kata Livre. Sejauh pengetahuanku dalam ber-vouz francois, Livre itu artinya buku. Tapi gak jamin loh. Terus, kalau Rei aku tak tahu. Coba nanti kupinjam buku nama bayi Mom. Lalu, sekarang, Senneville. Mirip nama belakang pencipta lagu Ballade Pour Adeline, yah? Paul de Senneville?
Lagunya menyenangkan. Aku suka Ballade Pour Adeline. Tapi tetap saja sih, aku lebih suka Canon in D. In D. Yeah, bukan apa-apa, hanya karena tanganku gerak-gerak nyeleneh sendiri kalau main versi C atau G-nya. Bahasa kasarnya, ya aku enggak bisa Hehe.
Hei, ada apa ini?? Bukannya tadi yang kubicarakan adalah Rei??
Oke, kita lanjutkan nih. Kali ini benar-benar Rei.
‘Yah, kusarankan kau tidak lewat jalan pintas, karena—’
Itu dia hal yang kupikirkan dari tadi! Ini seperti teka-teki! Rei seakan-akan memperingatkan Sam. Memangnya ada apa sih di jalan pintas? Jebakan yang dipasang Vee, kakak Rei? Atau monster? Suku pedalaman amerika yang haus darah? Tak mungkin.
Baiklah, mungkin seharusnya kulupakan saja deh. Kalimat pembawa sial itu sudah membawaku dalam kesulitan yang amat besar.
Hehehe.
Bayangkan, saat kukira aku tersesat di Ryehill Manor, padahal aku hanya berjarak 5 meter dari kamar Rei!
Lho lho lho, kemana saja matamu, young lady? Miss Claire?
Tak tau deh, sepertinya otakku saja yang salah, memikirkan hal-hal yang aneh terus! (Hei, terbukti!!! Coba lihat apa yang kutulis tadi!!)
Oh, pantas saja kau mencoba membandingkan Rei dengan foto Paul de Seneville tadi? Keren.
!!!!!!!!?!?!
Bukankah benar?
Cukup, cukup! Kau ini sinting, ya? Berebat dengan sisi pikiranmu yang lain??
Harus kuakui, ternyata sering juga kutulis perdebatan kedua sisi pikiranku ini (walaupun itu konyol). Ya sudah, deh! Aku mandi dulu, nanti kulanjutkan! Bye!
***

Will menutup buku hariannya dengan cengiran lebar. Sambil memungut sisa-sisa Big Mac-nya, ia melihat bahwa jam menunjukkan pukul 12.45. Udara amat panas, sehingga ia memutuskan untuk mandi, menyegarkan dirinya.
Will berjalan ke kamar mandi yang biasa digunakan Mom dan Sarah, lengkap dengan bathtub, jaquzzi, TV, dan lain sebagainya. Beda sekali dengan kamar mandi Will, yang hanya terisi oleh kloset dan shower.
Will mengambil handuk dan pakaian ganti, lalu masuk ke dalam kamar mandi mewah itu. Will menyalakan kran air panas dan air dingin secara bersamaan, sekaligus menuang sabun ke dalamnya. Ia dapat melihat, di meja samping bathtub terdapat setumpuk majalah dan catalog, juga berbagai macam produk kecantikan, dari sabun scrub sampai mascara maybelline terdapat di lacinya. Tak diragukan lagi bahwa Sarah pasti amat menikmati segala fasilitas ini.
Will dengan santai berendam di dalam air hangat, sambil membaca catalog pakaian. Mom senang sekali berendam atau bersantai di jaquzzi bersama majalah-majalahnya. Dari situ, ia mendapat pengtahuan bahwa gaun rancangan Valentino lebih mahal dari rancangan Dolce and Gabbana. Sepertinya lumayan berguna juga, pikir Will. Hahaha.
Sambil setengah memejamkan mata, Will mmbayangkan apa yang akan terjadi nanti malam. Dari seluruh cerita yang pernah ia dengar maupun baca, labirin memang benar-benar membingungkan, dan berbahaya. Tapi enggak mungkin, kan, Rei menyimpan monster di rumahnya? Lagipula Rei bukan Eragon yang memelihara Naga secara diam-diam. Hei, Saphira itu Naga, bukan monster!
Tiba-tiba, Will teringat oleh pesan Sam, Kira-kira jam 1an aku akan meng-e-mailmu. Cepat balas, kalau bisa sekalian saja kita chat! Sekarang suah pukul satu lebih. Karena bosan, Will memutuskan untuk membilas dirinya dengan shower, mengeringkan rambut, dan… sial! Pakaiannya tertinggal di sofa ruang keluarga!
Dengan memastikan bahwa tidak ada orang lain di rumah itu, Will membungkus dirinya dengan handuk—yang sialnya tidak besar-besar amat—dan berjalan mengambil pakaiannya.
Seselesainya dari ritual-sehabis-mandinya, Will langsung log-in ke accountnya. Ternyata sudah ada tujuh pesan yang masuk. Waduh. Tujuh?


Inbox (7)


Gabbiiee nanti malam…

VJosh-, to me. (no subject)

Ben_koolz, to me. ryehill manor

VexJo, to me. (no subject)

samantha, to me. BUKA

samantha, to me HEI!!

samantha, to me will WILL will will


Widih… kejam semua… Sam sudah mengirim tiga.
Jadi Will mulai membuka email dari Gaby.

Gabbiee: nanti malam…
From: Gabbie Slemonte (gabyS@hotmail.com)
Sent: Thursday, July 1, 2008 12: 04 AM
To: willclaire (spearmint@hotmail.com)

Hei Will,
Jam berapa kita akan kembali ke Ryehill Manor? Aku tak mendengarnya tadi. Kau tahu, Will, bermain di Ryehill Manor saat di siang hari saja sudah membingungkan, ITU BARU TAMAN DAN GEDUNGNYA, bandingkan dengan malam-malam di labirin! – Gabie –


Will mencoba menabahkan diri saat membaca pesan-pesan seperti itu. Ia membalas pesan Sam dengan kesenangan yang sinis, dan menanyakan pada Vexia dan Josh apa arti nickname mereka.
Will men-doble-klik pada ikon sent, dan istirahat sejenak. Sam bilang mereka akan menginap! Bayangkan, sehari penuh tanpa kebersamaannya dengan Sarah! Setidaknya tidak mendengar keluhan Sarah tentang nail art-nya. Lipglossnya yang kering. Bahkan jerawat di mukanya yang bersih itu.
Sambil menunggu, Will membuka accout-nya di My Space. Tak ada yang baru. Maka ia pun me-refresh inbox-nya.
Yeah, tentu kita sudah tahu siapa yang paling awal membalas. Siapa lagi kalau bukan Sam.
Will tidak membalasnya, hanya membacanya. Setelah ia kira semua itu selesai, maka computer ber-wallpaper foto Sarah itu (yakinlah, bukan Will yang mengatur) ia matikan.
Sambil menunggu datangnya malam, Will menulisi kembali buku hariannya.

Kamis, 1 Juni, 13.13, kamar.

Hal-hal yang kupelajari dari berendam di bathtub:
1. Jangan pernah menyalakan air panas dan dingin secara sekaligus, karena akan membauat airnya jadi dingin semua.
2. Beri air sedikit, masukkan sabun, lalu nyalakan lagi airnya. Itu akan membuat busanya lebih banyak.
3. Jangan pernah lupa menutup sumbat bathtub bila kau ingin berendam.
4. Membaca majalah sambil berendam bisa menyebabkan lupa waktu.
5. Harga baju rancangan Dolce lebih murah daripada Valentino.
6. Jangan ketiduran waktu berendam.
7. Sekeluarnya dari bathtub, bilas dulu dirimu.
8. Jangan lupa bawa pakaian ganti.
9. Handuk jangan ditaruh dekat-dekat air!
10. dan lain lain.

Betulkah? Coba saja sendiri.
Nah. Mau apa sekarang?

NANTI KAMI AKAN MENGINAP DI RYEHILL MANOR!!!

Lalu?

Itu berarti menyenangkan, bukan?! Mengapa sih teman senasibku ini punya pikiran 180 derajat beda denganku??

Kau yakin? Tentang sebelumnya, tidak selamanya kan, pikiran kita berdua berbeda? Mustahil sekali bila itu terjadi.

Heeeeii, mengapa hari ini kau dingin sekali..??

Sudah, sudah. Mengapa sih kalian ini sering bertengkar??
Memang, ke rumah Rei. Er, rumahnya bukan, ya? Agak ragu-ragu juga deh bila itu rumahnya. Pasti kau bertanya mengapa. Rei bilang kalau selama ini ternyata ia sekolah di Prancis. Tak tahu pasti sih kebenarannya. Tapi sepertinya benar-benar saja. Walaupun aku tak mengenal semua anak yang tinggal di lingkungab tempat aku tinggal dulu, setidaknya aku tahu. Tahu, bukan kenal. Hanya pernah melihat wajahnya. Tapi sekalipun belum pernah kulihat wajah Rei. Apalagi dia tinggal di Ryehill Manor. Kan lumayan dekat dengan rumahku!
Er… sepertinya agak melenceng sedikit dari pembicaraan. Tak apalah. Mari kita lanjutkan tentang sekolah Rei. Kira-kira dia sekolah di mana sih? Paris? Atau… kota yang lain? Sial, harusnya lain kali aku lebih sering baca atlas. Kalau setiap hari ia tinggal di Perancis, untuk apa liburan ke Inggris? Dia kan pasti sudah menjadi warga Negara sana.
Kok rasanya jadi malas sih, membicarakan Rei?
Ya sudah deh, kita cari bahan pembicaraan yang lain saja. Tapi apa, ya? Tak ada yang bisa dibicarakan dengan senang hati… atau… LABIRIN! Mari kita tebak apa saja yang kira-kira akan terjadi di sana.

Hal – hal menyenangkan yang dapat kutemui di labirin (dalam otak gilaku, bukan labirn Rei) :
1. Daun. Tanaman. Hhaha.
2. Cacing
3. Ular
4. Lumut
5. Laba – laba
6. Raksasa
7. Kalajengking
8. Piranha
9. Magma
10. Uang
11. Kerajaan tersembunyi…. Hahaha. Tidak mungkin, sih. Tapi kita boleh tetap berkhayal, kan? Jangan pernah menjawab tidak.
12. Emas
13. Harta karun
14. Bajak laut
15. Kucing kudisan?
16. Tarantulla
17. Barbeque
18. TANAH
19. LANGIT
20. Kehidupan. Mungkin.
21. dll.

Waduh. Apa saja sih yang kutulis di atas itu? Wah, maaf deh. Otakku kayaknya error. Lama-lama membosankan juga di rumah sendirian. Tak ada Sarah yang dapat kuledek mengenai eyeliner-nya yang kadang membuatnya tampak seperti hantu.
BOSAN.
***

Will menutup buku kecil tempat curhatnya itu. Ia mengambil CD kesukaannya, menyetelnya, dan mengambil kertas lalu mulai menggambar-gambar.















Seribu maap melayang kalo susah dibaca, bakal bikin capek kalo gwa enter satu-satu. apalagi ditambah "
" satu-satu. Menyedihkan. Itu cerita mungkin belum jelas, ya bakalnya ceritanya apa. Silahkan tunggu kelanjutannya bulan depan........

-nadia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar